BIOGRAFI ANAK NELAYAN SANG PENJAGA MIMPI MENULIS TAKDIRNYA SENDIRI

10 Jun 2026 Admin 👁 391

Anak Ombak yang Menantang Takdir

Di sebuah sudut pesisir Kota Pariaman, tepatnya di sebuah kampung yang bernama Ujung Batung, ketika matahari pagi menyentuh riak ombak Lautan Hindia dan angin asin berhembus lembut di sela-sela pohon kelapa, lahirlah seorang anak yang kelak menuliskan kisahnya sendiri di lembaran kehidupan. Ia diberi nama Agustri, lahir pada 28 Agustus 1983 dari rahim seorang ibu penjual lontong dan peluh seorang ayah nelayan. Tak ada kemewahan yang menyambut kelahirannya. Tidak ada istana yang menaungi masa kecilnya. Yang ada hanyalah rumah sederhana, aroma laut yang akrab, serta doa-doa panjang orang tua yang berharap anak mereka kelak memiliki kehidupan yang lebih baik daripada yang mereka jalani.

Sejak usia enam tahun, ketika anak-anak seusianya masih larut dalam permainan, Agustri telah belajar memahami arti tanggung jawab. Sebelum lonceng sekolah berbunyi, ia terlebih dahulu membantu menjual dagangan ibunya. Di kedai-kedai kecil dan lorong-lorong kampung, ia belajar tentang kehidupan. Ia belajar bahwa rezeki tidak datang begitu saja. Ia belajar bahwa setiap sen yang diperoleh mengandung keringat, kesabaran, dan perjuangan.

Tanpa disadari, jalanan kampung itulah sekolah pertamanya. Laut yang dilihat ayahnya setiap hari adalah guru yang mengajarkan keberanian. Sedangkan ibunya mengajarkan keteguhan hati melalui kerja keras yang tak pernah mengenal lelah. Dari sanalah kisah panjang seorang anak pesisir dimulai.

Menyusuri Jalan Ilmu di Tengah Keterbatasan

Bagi sebagian orang, pendidikan adalah pilihan. Namun bagi Agustri, pendidikan adalah harapan. Ia tumbuh dalam keluarga yang tidak memiliki banyak harta, tetapi kaya akan nilai dan semangat hidup. Orang tuanya memahami bahwa mereka mungkin tidak mampu mewariskan tanah yang luas ataupun kekayaan berlimpah. Namun mereka yakin bahwa ilmu adalah warisan terbaik yang tidak akan pernah habis dimakan zaman.

Di bangku SD Negeri 28 Subarang Pariaman, Agustri mulai mengenal dunia yang lebih luas. Buku-buku pelajaran membuka jendela baru yang memperlihatkan bahwa dunia ternyata jauh lebih besar daripada kampung tempat ia dibesarkan. Perjalanan pendidikan kemudian membawanya ke MTsN Padusunan Pariaman. Di sekolah itu, ia tidak hanya belajar ilmu pengetahuan, tetapi juga nilai-nilai agama yang kelak menjadi kompas dalam kehidupannya.

Ketika banyak anak seusianya masih mencari arah hidup, Agustri telah memupuk mimpi besar. Ia percaya bahwa suatu hari nanti dirinya harus pergi meninggalkan kampung halaman, merantau mencari ilmu dan pengalaman. Dan seperti tradisi orang Minangkabau pada umumnya, merantau bukanlah pilihan, melainkan panggilan jiwa.

Merantau: Mencari Diri di Negeri Orang

Perjalanan hidup seorang perantau selalu dimulai dengan keberanian meninggalkan kenyamanan. Setelah menempuh pendidikan di MAPK Koto Baru Padang Panjang, Agustri melangkahkan kaki menuju Yogyakarta, kota yang dikenal sebagai pusat intelektual dan rumah bagi para pencari ilmu dari seluruh penjuru Nusantara.

Yogyakarta menjadi babak baru dalam kehidupannya. Di kota itu ia belajar bahwa ilmu bukan sekadar hafalan di ruang kelas. Ilmu adalah keberanian berpikir. Ilmu adalah kemampuan mempertanyakan sesuatu dengan jujur. Ilmu adalah kesediaan menerima perbedaan. Di kampus UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, ia bertemu dengan beragam pemikiran dan karakter manusia. Ia berdiskusi hingga larut malam, membaca buku-buku yang membuka cakrawala berpikir, dan menyelami berbagai dinamika organisasi mahasiswa.

Di kota pelajar itulah jiwa intelektualnya tumbuh. Namun perjalanan itu tidak selalu mudah. Sebagai anak dari keluarga sederhana, hidup di perantauan mengajarkannya tentang kesabaran. Ada hari-hari ketika uang saku menipis. Ide dan inspirasi untuk dapat bertahan hidup harus selalu ada. Berjualan dan mengamen adalah beberapa pihannya lewat ajakan kawan. Ada masa-masa ketika kerinduan kepada kampung halaman terasa begitu menyiksa. Tetapi setiap kesulitan justru memperkuat tekadnya. Ia percaya bahwa masa depan tidak dibangun oleh kenyamanan, melainkan oleh perjuangan.

Menjadikan Ilmu Sebagai Jalan Pengabdian

Ketika banyak orang mengejar gelar untuk memperoleh kedudukan, Agustri memandang pendidikan sebagai sarana untuk mengabdi. Setelah menyelesaikan pendidikan tinggi dan melanjutkan studi magister di UIN Sultan Syarif Kasim Riau, ia memilih dunia pendidikan sebagai salah satu jalan hidupnya. Ia menjadi guru, Ia menjadi dosen, praktisi ekonomi dan bisnis, serta dunia politik. Ia berdiri di depan orang-orang bukan hanya untuk menyampaikan materi, melainkan untuk menyalakan harapan.

Bagi Agustri, setiap orang khususnya para anak muda adalah benih masa depan. Setiap ruang adalah tempat lahirnya peradaban. Dan setiap ilmu yang dibagikan adalah amal yang terus mengalir meskipun usia telah berakhir. Ia memahami bahwa bangsa yang besar tidak dibangun oleh gedung-gedung tinggi, tetapi oleh manusia-manusia yang berilmu dan berakhlak. Karena itulah dunia pendidikan selalu menjadi rumah yang paling dekat dengan hatinya.

Menanam Benih Kemandirian

Seiring perjalanan waktu, Agustri menyadari bahwa pendidikan dan ekonomi tidak dapat dipisahkan. Ilmu yang baik harus mampu melahirkan kemandirian. Keyakinan inilah yang mendorongnya mendirikan berbagai usaha dan lembaga sosial-ekonomi. Dari lembaga bimbingan belajar untuk masyarakat dengan tingkat ekonomi menengah ke bawah, mendirikan Lembaga Koperasi Syariah, Membuat minimarket, Usaha UMKM, hingga berbagai usaha lainnya. Baginya, usaha bukan semata-mata tentang keuntungan. Usaha adalah cara menciptakan manfaat.

Ia ingin membangun ruang bagi masyarakat untuk tumbuh bersama. Ia ingin membuktikan bahwa ekonomi dapat berjalan seiring dengan nilai-nilai keislaman dan pemberdayaan. Dalam setiap usaha yang dirintisnya, tersimpan satu cita-cita sederhana yaitu "Menjadi berguna dan bermanfaat bagi sebanyak mungkin orang."

Menjaga Demokrasi, Menegakkan Integritas

Kehidupan membawanya memasuki babak yang berbeda. Dari ruang kelas dan dunia usaha, Agustri kemudian terlibat dalam proses demokrasi bangsa. Amanah sebagai Ketua Bawaslu Kota Dumai menjadi salah satu titik penting dalam perjalanan hidupnya. Di tengah dinamika politik yang sering kali penuh tekanan dan kepentingan, ia berusaha berdiri tegak menjaga integritas. 

Ia memahami bahwa demokrasi tidak hanya membutuhkan aturan, tetapi juga keberanian untuk menegakkan keadilan. Tugas tersebut mengajarkannya bahwa kebenaran sering kali harus diperjuangkan. Bahwa kejujuran terkadang menuntut pengorbanan. Namun ia percaya, selama seseorang berpihak kepada nilai dan prinsip, maka sejarah akan mencatatnya dengan hormat.

Organisasi: Sekolah Kepemimpinan yang Sesungguhnya

Jika kampus mengajarkan ilmu, maka organisasi mengajarkan kehidupan. Sejak masa pelajar hingga dewasa, Agustri aktif dalam berbagai organisasi. Dari ASSALAM sebuah organisasi Pelajar Islam yang diikuti saat belajar di Sumatera Barat, menjadi Kader Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) saat kuliah di UIN Sunan Kalijaga, Menjadi Ketua Umum Ikatan Mahasiswa Minang (IMAMI) di UIN Sunan Kalijaga, menjadi pengurus di Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia (ICMI), Menjadi Pengurus Majlis Ulama Indonesia (MUI) Kota Dumai, hingga Persatuan Muballigh Dumai (PMD) Kota Dumai.

Di organisasi, ia belajar mendengarkan. Di organisasi, ia belajar memimpin. Di organisasi, ia belajar bahwa manusia tidak bisa hidup sendiri. Setiap forum yang diikutinya menjadi ruang pembelajaran. Setiap perbedaan pendapat menjadi pelajaran tentang kedewasaan. Setiap amanah menjadi ujian tentang tanggung jawab. Perjalanan organisasi telah menempa dirinya menjadi pribadi yang lebih matang dan terbuka.

Menulis untuk Menaklukkan Waktu

Ada satu kecintaan yang terus menyertai perjalanan hidup Agustri sejak muda hingga dewasa. Menulis, baginya adalah jejak yang tidak akan hilang ditelan zaman. Ia percaya bahwa manusia pada akhirnya akan pergi meninggalkan dunia. Jabatan akan berakhir. Kekayaan akan ditinggalkan. Namun tulisan akan terus berbicara bahkan ketika penulisnya telah tiada. Karena itu ia menulis tentang pendidikan, demokrasi, ekonomi, hukum, Agama, dan kehidupan.

Melalui buku, artikel, buletin, dan berbagai karya lainnya, ia berusaha menghadirkan gagasan yang bermanfaat bagi masyarakat. Menulis baginya bukan sekadar aktivitas intelektual. Menulis adalah bentuk pengabdian. Menulis adalah cara memperpanjang usia manfaat. Mungkin bagi sebagian orang setiap tulisan dan karya-karya beliau belum dianggap penting saat ini. Namun beliau yakin, setidaknya 10 tahun atau 20 tahun yang akan datang, karya-karya beliau akan dicari dan dibaca oleh generasi berikutnya.

Sebuah Perjalanan yang Belum Selesai

Kisah Agustri bukanlah cerita tentang seorang manusia yang lahir dalam kemewahan lalu meraih kesuksesan. Ini adalah kisah seorang anak nelayan yang memilih untuk bermimpi. Kisah seorang anak penjual lontong yang memilih untuk belajar. Kisah seorang perantau yang menolak menyerah kepada keadaan. Dari pesisir Pariaman hingga ruang-ruang pendidikan, dari organisasi hingga pengabdian publik, dari dunia usaha hingga dunia literasi, ia terus berjalan menapaki jalan panjang kehidupan.

Dan barangkali, seluruh perjalanan itu dapat dirangkum dalam satu keyakinan sederhana, bahwa hidup yang paling berharga bukanlah hidup yang panjang usianya, melainkan hidup yang panjang manfaatnya. Maka selama pena masih mampu menulis, selama ilmu masih dapat dibagikan, dan selama langkah masih sanggup melangkah, perjalanan itu akan terus berlanjut. Sebab bagi seorang perantau sejati, tujuan hidup bukan sekadar mencapai puncak, melainkan meninggalkan jejak yang dapat menjadi jalan bagi generasi berikutnya. Salam Cinta untuk Para Sahabat, Khususnya yang ada di Ujung Batung.(*)