POLITIK DAN ISLAM DALAM BINGKAI ETIKA DAN KEMASLAHATAN

16 Apr 2026 Admin 👁 234

*Oleh: Agustri

Relasi antara politik dan Islam kerap menjadi perbincangan yang tidak pernah usai. Sebagian memandang bahwa Islam adalah agama yang mengatur seluruh aspek kehidupan, termasuk politik, sementara yang lain beranggapan bahwa agama seharusnya tidak terlalu jauh masuk ke dalam wilayah kekuasaan. Namun, jika ditelaah secara mendalam, Islam tidak dapat dipisahkan sepenuhnya dari politik, karena keduanya bertemu dalam satu titik penting: kemaslahatan umat.

Dalam khazanah Fiqih Siyasah, politik dipahami sebagai upaya mengelola urusan publik dengan prinsip keadilan, amanah, dan tanggung jawab. Islam tidak hanya berbicara tentang ibadah ritual, tetapi juga menekankan pentingnya tata kelola sosial yang baik. Oleh karena itu, politik dalam perspektif Islam sejatinya adalah sarana untuk menghadirkan keadilan sosial dan kesejahteraan masyarakat, bukan sekadar perebutan kekuasaan.

Sayangnya, dalam praktik modern, politik sering kali terjebak dalam pragmatisme yang mengabaikan nilai-nilai moral. Kampanye hitam, politik uang, hingga manipulasi kekuasaan menjadi fenomena yang merusak esensi politik itu sendiri. Di sinilah Islam hadir sebagai sumber etika yang mampu menuntun arah politik agar tetap berada dalam koridor yang benar. Nilai-nilai seperti kejujuran (shiddiq), kepercayaan (amanah), kecerdasan (fathanah), dan keterbukaan (tabligh) seharusnya menjadi fondasi utama dalam berpolitik.

Islam juga mengajarkan bahwa kekuasaan adalah amanah, bukan hak istimewa yang dapat digunakan sesuka hati. Seorang pemimpin dalam Islam dituntut untuk melayani, bukan dilayani. Prinsip ini sangat relevan dalam konteks demokrasi saat ini, di mana pemimpin dipilih oleh rakyat dan harus mempertanggungjawabkan kebijakannya kepada publik.

Namun demikian, penting untuk diingat bahwa penerapan nilai-nilai Islam dalam politik tidak harus selalu dalam bentuk simbolik atau formalistik. Yang lebih utama adalah substansi nilai itu sendiri: keadilan, kejujuran, dan keberpihakan kepada kepentingan masyarakat luas. Politik yang berlandaskan nilai-nilai Islam bukan berarti politik yang eksklusif, melainkan politik yang inklusif dan membawa rahmat bagi semua.

Dengan demikian, hubungan antara politik dan Islam seharusnya tidak dipertentangkan, melainkan disinergikan. Politik membutuhkan etika, dan Islam menyediakan landasan moral tersebut. Jika keduanya berjalan beriringan, maka bukan tidak mungkin akan lahir tata kelola pemerintahan yang adil, bersih, dan berpihak kepada rakyat.