PERTI: MENJEMBATANI TRADISI DAN MODERNITAS DALAM PENDIDIKAN ISLAM
Oleh: DR. H. Rasyidi,
M.Pd.l (Alumni PPTI Gobah V Surau/Sekretaris DPC Perti Kota Dumai)
Di tengah derasnya arus modernisasi pendidikan, pertanyaan lama kembali mengemuka: bagaimana menjaga tradisi tanpa tertinggal oleh zaman? Bagi dunia pendidikan Islam di Indonesia, jawaban atas pertanyaan itu sebagian bisa ditelusuri dari sejarah lahirnya Persatuan Tarbiyah Islamiyah (PERTI). Organisasi yang berdiri pada tanggal 05 Mei tahun 1928 di ini bukan sekadar institusi keagamaan. Ia adalah respons intelektual terhadap perubahan besar yang melanda masyarakat Muslim pada awal abad ke-20. Di balik lahirnya PERTI, berdiri sosok ulama karismatik . Melalui pemikirannya, ia tidak hanya mempertahankan tradisi keilmuan Islam, tetapi juga merumuskan cara agar tradisi itu tetap hidup di tengah perubahan zaman.
Ketika Tradisi Diuji Zaman
Awal abad ke-20 merupakan masa yang penuh gejolak bagi pendidikan Islam di Indonesia. Sistem pendidikan tradisional berbasis surau—yang selama berabad-abad menjadi pusat pembelajaran agama—mulai menghadapi tantangan serius. Sekolah-sekolah modern yang diperkenalkan oleh pemerintah kolonial Belanda membawa pendekatan baru: kurikulum terstruktur, sistem kelas, dan metode pengajaran yang lebih sistematis. Sementara itu, gerakan pembaruan Islam juga mendorong perubahan dalam cara memahami dan mengajarkan agama. Dalam situasi seperti ini, pendidikan Islam tradisional berada di persimpangan: bertahan dengan cara lama atau beradaptasi dengan sistem baru. Dan PERTI memilih jalan ketiga.
Dari Surau ke Madrasah: Sebuah Lompatan Sejarah
Alih-alih mempertahankan
sistem surau secara kaku, PERTI melakukan inovasi penting dengan mengembangkan
madrasah. Ini bukan sekadar perubahan teknis, melainkan transformasi paradigma
pendidikan. Madrasah yang dikembangkan PERTI menghadirkan sistem pembelajaran
klasikal, kurikulum yang lebih terstruktur, dan Metode evaluasi yang jelas. Namun
yang menarik, perubahan ini tidak menghapus akar tradisi. Kitab-kitab klasik
tetap diajarkan, nilai-nilai mazhab Syafi’i tetap menjadi pijakan, dan hubungan
guru-murid tetap dijaga sebagai inti pendidikan. Di sinilah letak keunikan
PERTI: modernisasi tanpa kehilangan identitas.
Pendidikan yang Tidak Sekadar Mengajar
Bagi PERTI, pendidikan bukan hanya soal transfer ilmu. Lebih dari itu, pendidikan adalah proses tarbiyah, pembentukan manusia secara utuh. Pendekatan ini menekankan tentang pembentukan akhlak, penguatan spiritualitas, dan Keseimbangan antara ilmu dan nilai. Di era sekarang, ketika pendidikan sering kali terlalu berorientasi pada capaian akademik, pendekatan ini terasa semakin relevan. “Pendidikan bukan hanya mencetak orang pintar, tetapi membentuk manusia yang berkarakter,” menjadi semangat yang tercermin dalam sistem pendidikan PERTI.
Relevansi di Era Modern
Di tengah tantangan
globalisasi dan digitalisasi, warisan pendidikan PERTI justru menemukan
momentumnya kembali. Ada beberapa alasan mengapa pendekatan ini tetap relevan,
yaitu 1) Integrasi Ilmu dan Nilai, yang mana dalam dunia yang semakin kompleks,
kebutuhan akan pendidikan berbasis nilai semakin mendesak. PERTI telah lebih
dulu mengintegrasikan aspek ini. 2) Pendidikan Karakter yaitu Konsep pendidikan
karakter yang kini menjadi fokus global sebenarnya telah lama menjadi inti dari
sistem pendidikan PERTI, dan 3) Fleksibilitas dalam Adaptasi yaitu sejak awal,
PERTI menunjukkan bahwa tradisi tidak harus kaku. Kemampuan beradaptasi inilah
yang menjadi kunci keberlanjutan.
Tantangan Baru, Peluang Baru
Meski memiliki fondasi
kuat, PERTI juga menghadapi tantangan di era modern. Digitalisasi pendidikan,
perubahan gaya belajar generasi muda, serta kompetisi dengan lembaga pendidikan
modern menjadi realitas yang tidak bisa dihindari. Namun, di tengah tantangan
itu, nilai-nilai yang dibawa PERTI justru menjadi solusi. Ketika pendidikan
modern sering dikritik karena kehilangan dimensi moral, pendekatan berbasis
nilai yang dikembangkan PERTI menawarkan alternatif yang kuat.
Menatap Masa Depan
Hampir satu abad setelah
kelahirannya, PERTI tetap menjadi bagian penting dari lanskap pendidikan Islam
di Indonesia. Ia bukan hanya warisan sejarah, tetapi juga sumber inspirasi untuk
masa depan. Di tengah dunia yang terus berubah, satu hal tetap relevan:
kebutuhan akan pendidikan yang tidak hanya mencerdaskan, tetapi juga
memanusiakan. Dan dalam hal ini, PERTI telah memberi contoh bahwa tradisi dan
modernitas bukanlah dua kutub yang harus dipertentangkan, melainkan bisa
berjalan berdampingan.
Lahirnya PERTI adalah bukti bahwa pendidikan Islam memiliki kemampuan untuk beradaptasi tanpa kehilangan jati diri. Di era modern, pelajaran dari sejarah ini menjadi semakin penting. Karena pada akhirnya, pendidikan terbaik bukanlah yang paling modern atau paling tradisional, tetapi yang mampu menjawab kebutuhan manusia secara utuh.
DAFTAR PUSTAKA
Azra, A. (2004). Jaringan
ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara. Jakarta: Kencana.
Noer, D. (1980). Gerakan
modern Islam di Indonesia. Jakarta: LP3ES.
Abdullah, T. (1996). Islam
dan masyarakat. Jakarta: LP3ES.
Yunus, M. (1995). Sejarah
pendidikan Islam di Indonesia. Jakarta: Hidakarya Agung.