FORDAS RESMI DIKUKUHKAN, LANGSUNG GELAR SEMINAR ADAT BASANDI SYARAK
Kota Dumai – Forum Dakwah Adat Basandi Syarak (FORDAS) resmi dikukuhkan pada Sabtu, 25 Juli 2026, sekaligus menandai langkah awal pengabdiannya kepada masyarakat dengan menyelenggarakan Seminar Adat Basandi Syarak. Kegiatan yang berlangsung khidmat dan penuh semangat ini menjadi momentum penting dalam memperkuat nilai-nilai budaya Minangkabau yang berpijak pada falsafah Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah (ABS-SBK) di tengah kehidupan masyarakat Kota Dumai.
Acara tersebut dihadiri oleh berbagai tokoh penting, di antaranya Anggota DPD RI Arif Eka Saputra, Wali Kota Dumai, para ninik mamak dan orang tua Minangkabau, organisasi IKA-IKA Minang se-Kota Dumai, tokoh masyarakat, akademisi dari berbagai perguruan tinggi, serta unsur masyarakat yang memiliki perhatian terhadap pelestarian adat dan penguatan nilai-nilai keislaman. Kehadiran para pemangku kepentingan tersebut menunjukkan besarnya dukungan terhadap lahirnya FORDAS sebagai wadah kolaborasi dalam menjaga, mengembangkan, dan mengaktualisasikan nilai-nilai adat basandi syarak di era modern.
Sebagai agenda utama, seminar menghadirkan Buya Zulhamdi Malin Mudo, Tokoh Adat sekaligus Ketua MUI Kota Padang Panjang, sebagai narasumber utama. Dalam pemaparannya, Buya Zulhamdi menegaskan bahwa falsafah Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah bukan sekadar slogan budaya, melainkan pedoman hidup masyarakat Minangkabau yang mengintegrasikan adat dengan ajaran Islam. Menurutnya, harmonisasi antara adat dan syariat merupakan fondasi yang harus terus diwariskan kepada generasi muda agar identitas budaya tetap terjaga di tengah derasnya arus globalisasi dan perubahan sosial.
Seminar berlangsung interaktif dengan antusiasme peserta yang tinggi. Berbagai pandangan, gagasan, dan pengalaman disampaikan dalam sesi diskusi yang membahas tantangan pelestarian adat, penguatan pendidikan karakter berbasis budaya, serta pentingnya sinergi antara pemerintah, tokoh adat, akademisi, dan masyarakat dalam menjaga eksistensi nilai-nilai ABS-SBK. Semangat kebersamaan semakin terasa dengan kehadiran Bundo Kanduang yang tampil memberikan dukungan penuh terhadap upaya pelestarian adat Minangkabau di Kota Dumai. Kehadiran mereka menjadi simbol penting bahwa perempuan memiliki peran strategis dalam menjaga nilai-nilai adat, membina keluarga, serta mewariskan budaya kepada generasi penerus.
Ketua FORDAS dalam sambutannya menyampaikan bahwa organisasi ini dibentuk sebagai ruang kolaborasi intelektual dan sosial yang berorientasi pada pengembangan ilmu pengetahuan, pelestarian budaya, serta pemberdayaan masyarakat. FORDAS tidak hanya berfokus pada dakwah adat, tetapi juga bergerak dalam berbagai bidang strategis, meliputi penelitian (research), diskusi ilmiah, seminar, pelatihan, survei, pengabdian kepada masyarakat, publikasi ilmiah, serta kajian kebijakan di bidang budaya, pendidikan, hukum, ekonomi, dan sosial.
Melalui berbagai program tersebut, FORDAS diharapkan mampu menjadi pusat kajian dan pengembangan pemikiran yang berkontribusi dalam melahirkan rekomendasi kebijakan, meningkatkan literasi masyarakat, serta memperkuat sinergi antara adat, agama, pemerintah, dan dunia akademik. Kehadirannya menjadi jawaban atas kebutuhan akan sebuah lembaga yang tidak hanya menjaga warisan budaya, tetapi juga mampu menghadirkan solusi ilmiah terhadap berbagai persoalan sosial yang berkembang di masyarakat.
Rangkaian kegiatan sejak prosesi pengukuhan hingga seminar berlangsung dengan tertib, lancar, aman, dan sukses. Antusiasme peserta yang memadati lokasi kegiatan menjadi bukti bahwa semangat menjaga falsafah Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah masih tumbuh kuat di tengah masyarakat. Diharapkan FORDAS dapat terus menjadi motor penggerak lahirnya berbagai program yang memperkuat identitas budaya, memperkokoh nilai-nilai keislaman, serta memberikan kontribusi nyata bagi pembangunan masyarakat, khususnya di Kota Dumai dan Provinsi Riau. (Nayyer)