JEJAK KAYUH DI JALAN TANAH
(Berdasarkan
Kisah Nyata Perjalanan Sekolah Di Sebuah Kampung Pada Tahun 1986–1987).
*Karya:
Ayai
Kenangan adalah keadaan yang tidak pernah menua. Ia tidak lekang oleh waktu, tidak pudar oleh hujan, dan tidak hanyut bersama derasnya arus kehidupan. Ia tinggal diam di sudut hati, lalu sesekali datang mengetuk ingatan ketika embun pagi turun, ketika aroma tanah basah menyapa, atau ketika suara burung dari kejauhan mengembalikan seseorang kepada masa kecilnya. Begitulah kenangan itu hidup dalam diriku. Kenangan tentang sebuah jalan tanah yang memanjang di antara ladang-ladang kampung. Tentang sebuah sepeda tua yang menjadi kendaraan menuju masa depan. Tentang seorang adik yang duduk tenang di boncengan belakang. Dan tentang satu pagi yang mengajarkan bahwa alam pun memiliki hak untuk didahulukan.
Tahun itu sekitar 1986 atau 1987, kampung kami masih sederhana. Rumah-rumah kayu berdiri berjauhan, dikelilingi pohon kelapa, pisang, dan kebun karet yang membentang hingga batas hutan. Jalan belum mengenal aspal. Jika musim kemarau datang, debu beterbangan mengikuti langkah siapa saja yang melintas. Namun ketika hujan turun, jalan berubah menjadi lumpur yang lengket, seolah ingin menahan setiap roda agar tidak melanjutkan perjalanan. Di sanalah masa kecil kami tumbuh.
Setiap pagi, sebelum matahari benar-benar menampakkan wajahnya, ibu telah lebih dahulu bangun. Asap tipis mengepul dari dapur kayu bakar. Aroma nasi hangat bercampur harum kopi ayah memenuhi rumah kecil kami. Burung-burung mulai bernyanyi di balik pepohonan, sementara embun masih menggantung di ujung daun seperti mutiara yang enggan jatuh ke bumi. Aku, anak kelas empat sekolah dasar, bersiap mengenakan seragam putih merah yang telah beberapa kali dijahit ulang. Sepatu hitam mulai kusam, tetapi masih cukup kuat menemani perjalanan. Adikku, murid kelas dua SD, berdiri di sampingku sambil memeluk tas kain yang berisi buku-buku pelajaran.
Di halaman rumah telah menunggu sebuah sepeda tua. Catnya telah mengelupas. Setangnya mulai berkarat. Bunyi rantainya sering terdengar berderit setiap kali dikayuh. Namun bagi kami, sepeda itu lebih berharga daripada kendaraan mewah yang hanya kami lihat di kota. Dialah sahabat yang setiap hari mengantar dua anak kampung mengejar cita-cita. "Ayo, nanti terlambat," kataku. Adikku mengangguk, lalu duduk di boncengan belakang. Dengan satu kayuhan pelan, perjalanan dimulai. Jalan tanah itu membelah hamparan ladang masyarakat. Rumput liar tumbuh di tepi jalan. Semak belukar menari mengikuti tiupan angin. Sesekali kupu-kupu berwarna kuning melintas di depan kami, seakan sedang berlomba dengan roda sepeda yang berputar perlahan.
Di kejauhan berdiri hutan yang masih lebat. Pohon-pohon besar menjulang tinggi, menaungi bumi dengan rindangnya dedaunan. Dari dalamnya terdengar berbagai suara yang bagi anak-anak kampung telah menjadi musik kehidupan suara burung rangkong, siulan burung kecil, gesekan ranting, bahkan pekikan monyet yang melompat dari satu dahan ke dahan lainnya. Kami tidak pernah merasa sendiri. Alam selalu menemani perjalanan. Di sebuah tikungan terdapat jalan setapak menuju pemakaman kampung. Ilalang tumbuh tinggi menutupi sebagian jalannya. Orang-orang dewasa mungkin menyebut tempat itu menyeramkan. Namun bagi kami, ia hanyalah bagian dari kampung yang telah lama kami kenal. Kami percaya bahwa rasa takut sering kali lahir dari pikiran, bukan dari tempat.
Perjalanan pagi itu berlangsung seperti biasanya. Aku terus mengayuh dengan irama pelan agar adikku tetap nyaman di belakang. Sesekali kami berbincang tentang pelajaran sekolah, tentang guru yang baik hati, atau tentang cita-cita sederhana yang bahkan belum benar-benar kami pahami. Namun alam rupanya telah menyiapkan sebuah pelajaran yang tidak tertulis di buku sekolah.
Ketika sampai di pertengahan jalan, tiba-tiba terdengar suara ranting patah dari balik semak di sebelah kanan. "Krek..." Aku segera menghentikan kayuhan. Sepeda berhenti. Angin mendadak terasa lebih pelan. Burung-burung seperti berhenti bernyanyi. Kami saling berpandangan tanpa sepatah kata. Dari balik rimbunnya semak, perlahan muncul seekor babi hutan dewasa. Tubuhnya besar dan kokoh. Moncongnya panjang. Matanya tajam tetapi tidak menunjukkan ancaman. Ia berjalan perlahan, mengendus tanah, lalu melangkah menyeberangi jalan.
Belum selesai rasa terkejut kami, seekor lagi muncul. Lalu seekor lagi. Kemudian semakin banyak. Aku membelalakkan mata. Ternyata bukan hanya beberapa ekor. Puluhan babi hutan keluar beriringan seperti sebuah keluarga besar yang sedang melakukan perjalanan panjang. Mereka berjalan teratur, seolah memiliki pemimpin yang memberi arah. Di barisan depan tampak induk-induk bertubuh besar yang melangkah penuh kewaspadaan. Di belakang mereka mengikuti babi-babi muda yang mulai belajar mengenali dunia. Sementara anak-anak babi yang masih kecil berlari pendek dengan langkah lucu, sesekali hampir tertinggal lalu kembali merapat kepada induknya.
Jalan tanah yang beberapa saat sebelumnya hanya milik kami, kini sepenuhnya menjadi milik mereka. Aku memegang erat setang sepeda. Adikku tanpa sadar menggenggam ujung bajuku. "Kita tunggu saja," bisikku. Ia mengangguk pelan. Kami turun dari sepeda dan berdiri di tepi jalan. Tak ada rasa marah karena perjalanan terhenti. Tak ada keinginan mengusir atau mengganggu mereka. Kami hanya menyaksikan dengan takjub bagaimana alam menjalankan kehidupannya sendiri.
Saat itu aku baru menyadari bahwa hutan bukan hanya kumpulan pohon. Ia adalah rumah. Rumah bagi ribuan makhluk yang hidup jauh sebelum manusia membuka ladang dan membuat jalan. Puluhan babi hutan itu terus melintas tanpa tergesa-gesa. Mereka berjalan dengan ketenangan yang sulit dijelaskan. Tidak ada yang berlari. Tidak ada yang panik. Seolah mereka tahu bahwa dua anak kecil yang berdiri di pinggir jalan tidak akan menyakiti mereka. Barangkali, di mata mereka, kami hanyalah bagian kecil dari pagi yang sama. Beberapa menit berlalu. Rombongan itu semakin sedikit. Seekor demi seekor menghilang ke balik semak di sisi kiri jalan, lalu lenyap ditelan rimbunnya pepohonan. Yang terakhir muncul adalah seekor anak babi yang paling kecil. Ia sempat berhenti sejenak, menoleh ke arah kami, lalu berlari mengejar keluarganya hingga menghilang di balik ilalang.
Keheningan kembali menyelimuti jalan. Angin berembus membawa aroma dedaunan basah. Burung-burung kembali bernyanyi. Aku menghela napas panjang. "Mari kita lanjutkan." Kami kembali menaiki sepeda. Roda-roda tua itu kembali berputar, meninggalkan tempat yang beberapa saat sebelumnya menjadi panggung kecil pertemuan antara manusia dan alam. Sesampainya di sekolah, kehidupan berjalan seperti biasa. Guru mengajarkan membaca. Mengajarkan berhitung. Mengajarkan menulis. Namun sesungguhnya, pelajaran paling berharga hari itu telah kami peroleh jauh sebelum lonceng sekolah berbunyi. Kami belajar bahwa keberanian bukan selalu berarti melawan.
Kadang keberanian adalah kemampuan untuk berhenti. Untuk menunggu. Untuk memberi ruang kepada makhluk lain menjalani kehidupannya. Hari-hari terus berganti. Musim datang silih berganti. Kadang kami berangkat sekolah dengan pakaian yang basah karena hujan. Kadang harus turun dari sepeda karena roda terjebak lumpur. Pernah pula kami bertemu ular yang melata di tepi jalan atau melihat sekawanan monyet melompat di antara pepohonan.
Semua itu bukan hambatan. Itulah kehidupan. Tak pernah sekali pun terlintas dalam benak kami untuk berhenti bersekolah hanya karena jalan sulit dilalui. Pendidikan terasa begitu berharga sehingga setiap tetes keringat dalam perjalanan menjadi bagian dari perjuangan yang tidak kami sadari saat itu.
Kini, hampir empat puluh tahun telah berlalu. Jalan tanah itu telah berubah menjadi jalan yang mulus. Kendaraan bermotor berlalu-lalang setiap hari. Anak-anak berangkat sekolah dengan mobil atau sepeda motor, bahkan sebagian diantar hingga ke depan gerbang sekolah. Hutan yang dahulu begitu lebat perlahan menyusut. Sebagian berubah menjadi kebun. Sebagian lagi menjadi permukiman. Suara satwa liar semakin jarang terdengar. Kawanan babi hutan yang dahulu bebas menyeberangi jalan mungkin hanya tinggal cerita yang diwariskan dari satu generasi kepada generasi berikutnya. Namun kenangan itu tidak pernah ikut menghilang. Ia tetap hidup.
Setiap kali aroma tanah basah memenuhi udara, bayangan pagi itu kembali hadir. Aku melihat diriku yang masih kecil sedang mengayuh sepeda tua. Adikku duduk diam di belakang sambil memeluk tas sekolah. Matahari pagi memancar lembut di sela pepohonan, dan jalan tanah membentang seperti seutas benang yang menghubungkan masa kecil dengan masa depan. Lalu dari balik semak, keluarlah kawanan babi hutan yang berjalan tenang, seolah sedang mengingatkan bahwa manusia hanyalah salah satu penghuni bumi, bukan pemiliknya. Kini aku memahami bahwa pendidikan yang sesungguhnya tidak hanya lahir dari ruang kelas. Ia juga tumbuh di jalan-jalan sederhana.
Di lumpur yang melekat pada roda sepeda. Di embun yang membasahi ujung celana. Di peluh yang menetes saat mengayuh tanjakan. Dan di kesabaran dua anak kecil yang rela menunggu hingga seluruh kawanan satwa liar menyelesaikan perjalanannya. Mungkin jejak roda sepeda itu telah lama hilang diguyur hujan. Mungkin jalan tanah itu telah berubah menjadi hamparan aspal yang kokoh. Namun ada jejak lain yang tak pernah dapat dihapus oleh waktu.
Jejak perjuangan. Jejak kesederhanaan. Jejak cinta kepada ilmu pengetahuan. Jejak penghormatan kepada alam. Semua itu tetap hidup di dalam hati, menjadi pelita yang terus menyala hingga hari ini. Karena sesungguhnya, setiap kayuhan menuju sekolah pada masa itu bukan sekadar perjalanan menuju ruang kelas. Ia adalah perjalanan menuju kedewasaan, menuju harapan, dan menuju masa depan yang dibangun dengan kesabaran, keberanian, serta keyakinan bahwa ilmu adalah cahaya yang pantas diperjuangkan, meski harus melewati jalan tanah, lumpur, bahkan menunggu puluhan babi hutan menyeberang terlebih dahulu. Setiap kali kenangan itu datang, aku selalu tersenyum. Sebab di jalan sederhana itulah, masa kecil meninggalkan jejaknya yang paling indah.(*)