BUKAN UMRAHKU TAPI UMRAHNYA

30 Sep 2026 • Admin • 👁 156

*Oleh: Nayyer

"Cerita ini kuceritakan untukmu, bukan untuk yang lain. Aku tidak tau bagaimana ceritamu tentang ceritaku ini, tapi yakinlah, dalam ceritaku ada ceritamu. Aku bercerita bukan untukku, tapi aku bercerita untukmu". 


Semua Berawal Dari Obrolan Sederhana

Malam itu, suasana rumah seperti biasanya. Desau kipas angin yang berputar lambat di sudut ruang tengah. Di atas kasur busa yang lembut, aku meluruskan punggung yang letih setelah seharian memeras peluh mencari nafkah yang sering kali hanya cukup untuk menyambung napas dari hari ke hari. Nayyer, putri kecil kami yang berusia empat tahun, sudah tertidur lelap dengan memeluk guling nya. Di sebelahku, Jeeny sedang melipat baju-baju kecil milik Nayyer. Sesekali tangannya yang lembut mengusap kening putri kami. Di tengah keheningan yang tenang itu, aku memandangi layar ponsel bututku yang sedang memutar video siaran langsung dari Masjidil Haram. Jutaan lautan putih sedang bertawaf, mengelilingi bangunan kubus hitam berselimut kiswah emas yang agung.

"Kira-kira kapan ya, nda, kita bertiga bisa sujud di depan Ka'bah itu?" gumamku pelan, bernada candaan getir untuk menghibur hati yang sebenarnya haus. Jeeny menghentikan lipatan bajunya. Ia menoleh ke arahku, tatapannya lekat, lalu tersenyum teduh. Senyuman yang selalu menjadi tempat berteduh paling nyaman saat duniaku sedang runtuh.

"Kalau Allah panggil, pasti berangkat, Biy," jawabnya tenang. Aku tersenyum kecut, membuang napas perlahan. "Orang-orang sering bilang begitu. Umrah itu murni panggilan Allah, bukan soal punya uang atau tidak. Tapi logikanya, tiket pesawat, visa, hotel, semuanya pakai uang, nda. Dompet ini jangankan buat terbang ke tanah suci, buat bayar kebutuhan setiap bulannya saja masih mikir keras. Belum bisa percaya seratus persen sama kata-kata itu."

Jeeny meletakkan baju lipatannya, beringsut mendekat dan duduk di sampingku. Tangannya meraih telapak tanganku. "Abiy harus berangkat duluan," bisiknya lembut namun begitu tegas. Aku terperanjat, menatap wajahnya heran. "Ngomong apa sih, Nda? Kalaupun nanti Allah kasih rezeki lebih, Kita berangkat bertiga. Abiy, bunda, dan Nayyer. Mana mungkin Abiy tega ninggalin kalian di sini sendirian demi mengejar ibadah sendiri?"

"Dengarkan Jeeny dulu, Biy," potongnya lembut, matanya berbinar menahan sesuatu yang tak terbaca. "Kalau Allah izinkan Abiy jalan duluan, berangkatlah. Anggap Abiy ini duta kecil keluarga kita. Setidaknya, kalau nanti suatu hari nanti Allah benar-benar memanggil kita bertiga, Abiy sudah paham jalannya. Abiy sudah punya gambaran, tahu tata caranya, tahu bagaimana membimbing Jeeny dan Nayyer di sana. Berangkat ya aja duluan, Biy?"

Aku hanya tertawa kecil, menganggapnya sekadar lamunan pengantar tidur seorang istri yang setia. Namun, takdir Allah bekerja dengan cara yang tak pernah bisa dijangkau oleh akal manusia yang sempit. Satu bulan setelah malam itu, sebuah keajaiban yang membuat bulu kudukku meremang benar-benar terjadi. Sebuah paket pendaftaran ibadah umrah dua belas hari resmi terdaftar atas namaku, Trie. Saat pembayaran itu diserahkan Jeeny di hadapanku, lidahku kelu. Dadaku bergemuruh hebat, antara takjub, takut, dan bingung luar biasa. "Nda... dari mana uang sebanyak ini? Kamu dapat uang dari mana?" desakku dengan suara gemetar, menyentuh pundaknya yang ringkih.

Jeeny hanya tersenyum simpul, menyipitkan matanya yang jenaka sembari tertawa kecil. "Tak usah tanya, hehehe. Ada pokoknya. Rahasia istri." Sampai detik koper besar bertuliskan biro perjalanan itu tiba di rumah, ia tidak pernah mau membocorkan dari mana rupiah-rupiah itu terkumpul. Aku tahu betul simpanan kami tidak seberapa. Apakah dia menjual perhiasannya semua? Atau dia meminjam ke sana-kemari tanpa sepengetahuanku? Setiap kali aku mendesaknya, ia hanya menatapku teduh dan menjawab, "Tugas Abiy cuma fokus ibadah. Jangan pikirkan yang lain. Dua belas hari ke depan, serahkan semua urusan duniawi pada Allah."

Perpisahan Untuk Ibadah

Pagi hari keberangkatan adalah ujian batin paling menyayat yang pernah kurasakan. Di halaman Masjid Islamic Center yang luas, suasana mendadak dingin. Nayyer yang biasanya ceria dan mudah dibujuk, mendadak memeluk kakiku erat-erat. Air matanya membanjiri celana kain yang kukenakan. Tangisan Nayyer pagi itu sama sekali tidak seperti tangisan anak kecil yang merajuk minta mainan. Itu adalah tangisan kesedihan yang teramat dalam, lengkingan pilu seorang anak yang seakan tahu ayahnya akan pergi melintasi benua dan samudera.

"Abiy... jangan pergi. Abiy di rumah saja sama Nayyer," rengeknya tersedu-sedu, jemari kecilnya mencengkeram kuat ujung bajuku hingga kusut. Hancur luluh hatiku mendengarnya. Aku berlutut, merengkuh tubuh mungilnya ke dalam dadaku. Air mataku tumpah, menetes ke ubun-ubunnya yang wangi. Rasanya ingin sekali aku membatalkan semuanya detik itu juga. Meninggalkan dua bidadari hidupku dalam kesendirian terasa seperti dosa besar bagi seorang kepala keluarga. Namun Jeeny perlahan meraih pundak Nayyer, membimbing putri kami dengan ketabahan yang luar biasa, meski aku melihat jelas pelupuk mata Jeeny sendiri sudah memerah menahan badai air mata. "Ingat pesan Jeeny, Biy. Fokus ibadah. Jangan pikirkan kami. Kami aman dalam lindungan Allah," bisik Jeeny saat aku mencium keningnya untuk terakhir kali sebelum melangkah keluar pintu.

Perjalananku dimulai dengan rasa sepi yang menggigit. Dari kota asalku, aku terbang menuju Medan untuk bergabung dengan rombongan besar, sebelum bertolak menuju Jeddah. Di antara puluhan jamaah dalam grup, aku adalah orang yang benar-benar tersesat dalam keramaian. Dari seluruh peserta rombongan, aku hanya mengenal satu orang saja, yaitu ustadz kepala rombongan yang mengurus keberangkatan kami. Selebihnya adalah orang-orang mapan, keluarga-keluarga yang berangkat bersama anak-istri mereka, bercengkerama riang dengan koper-koper mewah. Sedangkan aku? Aku hanyalah Trie, lelaki sederhana yang membawa hati penuh beban dan rasa heran yang belum tuntas tentang bagaimana kakiku bisa menginjak tangga pesawat.

Penerbangan panjang Medan menuju Jeddah terasa bagai lorong waktu. Kami berganti pakaian ihram di miqat, tepatnya di atas pesawat. Gemuruh di dadaku semakin tak menentu. Begitu mendarat di Jeddah, perjalanan bus membawaku menembus padang pasir tandus menuju Mekkah al-Mukarramah.

Aku Sampai di Baitullah

Detik pertama mataku menatap Ka'bah secara langsung di pelataran Masjidil Haram, seluruh sendi tubuhku terasa lepas. Bangunan megah berselimut kain hitam itu berdiri tegak di hadapanku. Ribuan manusia berputar mengelilinginya laksana debu di hadapan keagungan semesta. Air mataku tumpah tanpa bisa dibendung. Semua keraguanku tentang "panggilan Allah" lebur tak berbekas. Aku yang miskin, aku yang serba kekurangan, kini berdiri di tanah paling mulia di muka bumi.


Di tanah haram ini, aku mengalami dimensi spiritual yang aneh sekaligus magis. Aku merasa seperti orang asing di tengah jutaan manusia dari berbagai penjuru dunia, namun pada saat yang bersamaan, aku merasakan kenyamanan yang belum pernah kualami seumur hidupku. Tidak ada rasa takut, tidak ada rasa terasing. Rasanya seolah-olah aku sedang berduaan saja dengan Sang Pencipta, duduk mengobrol santai dari hati ke hati. Setiap lintasan pikiran, setiap keluhan batin yang terucap lirih di bibirku, entah itu perkara sepele, hal baik, hingga kekhawatiran buruk, seketika itu juga Allah jawab dan perlihatkan hikmahnya di depan mataku secara nyata. Tanah ini hidup, dan Tuhanku begitu dekat, lebih dekat dari urat leherku sendiri.

Namun, realitas hidupku tetap berjalan beriringan. Selama di Mekkah, rombongan sering merencanakan perjalanan ziarah tambahan atau berbelanja di pasar-pasar modern di pelataran menara Zam-Zam. Aku lebih banyak memilih diam di kamar hotel atau memperpanjang iktikaf di dalam masjid. Uang di kantongku sangat pas-pasan, hanya cukup untuk bertahan hidup tanpa merepotkan siapa pun. Bisa sampai dan bernapas di Mekkah saja sudah merupakan keberuntungan luar biasa yang tak pernah terbayangkan, apalagi untuk membeli buah tangan mewah atau menyewa kendaraan ke tempat-tempat ziarah berbayar. Aku terlalu malu untuk meminta kiriman tambahan pada Jeeny di kampung halaman. Membayangkan bagaimana kerasnya ia berjuang mengumpulkan ongkos keberangkatanku saja sudah membuat dadaku perih.

Sikapku ini mungkin membuatku terkesan individualis di mata anggota rombongan yang lain. Aku jarang ikut nongkrong di lobi, jarang ikut berfoto-foto ria di sudut-sudut kota. Aku takut merepotkan orang lain, takut menjadi beban yang memalukan. Maka, Masjidil Haram menjadi pelarian terindahku. Menghabiskan waktu berjam-jam menatap Ka'bah, berdiam diri beralaskan karpet tebal, dan menangis sepuas-puasnya.

Setiap kali tanganku menengadah di hadapan Multazam dan Ka'bah, doaku tidak pernah berubah. Doa itu terus mengalir deras seperti air mata yang tak pernah surut, "Ya Allah, Rabb yang Maha Pemurah... panggilanMu hari ini begitu indah, namun hatiku merintih karena berdiri di sini seorang diri. Panggil kami bertiga ke rumah-Mu ini suatu saat nanti, ya Allah. Panggil kami secara bersama-sama. Aku ingin memegang jemari Jeeny di tangan kananku, dan menggenggam jemari mungil Nayyer di tangan kiriku, melangkah bersama mengelilingi Ka'bah-Mu. Aku ingin berlari-lari kecil dari bukit Safa ke Marwa bersama mereka, merasakan haus yang sama, lalu sesekali berhenti meneguk segarnya air zam-zam-Mu yang berkah."

"Kabulkanlah ya Rabb, izinkan aku membawa mereka melihat Bukit Tsur-Mu tempat kekasih-Mu berlindung, menginjakkan kaki di tanah Thaif yang penuh luka namun dibalas dengan doa keberkahan oleh Rasulullah SAW, mendaki Gua Hira-Mu tempat cahaya pertama turun ke bumi. Bawalah kami ke Jabal Rahmah, tanah tempat Engkau mempertemukan kembali bapak kami Adam dan ibu kami Hawa setelah ratusan tahun Engkau pisahkan dalam kerinduan yang panjang. Bimbing kami menatap Bukit Uhud-Mu, bukit yang mengajarkan kami tentang betapa hinanya keegoisan, ketamakan, dan ketidaktaatan. Jangan biarkan aku menikmati surga dunia ini sendirian tanpa mereka berdua, ya Rabb..."

Menuju Negeri Indah Madinah Munawwarah

Setelah hari-hari penuh air mata di Mekkah berlalu, kereta cepat membawa rombongan kami menuju kota Madinah al-Munawwarah. Kota yang menyambutku dengan angin sejuk dan kedamaian yang tak terlukiskan. Hari pertama kami berada di Madinah, kami mengunjungi beberapa tempat bersejarah, seperti Masjid Quba yaitu masjid yang pertama kali Rasulullah dan para Sahabat bangun ketika pertama kali sampai di negeri yasrib. Selain itu kami juga sampau di bukit Uhud yaitu tempat terjadinya pertempuran besar anatara kaum muslimin yang di pimpin oleh Rasulullah langsung, namun dalam peperangan ini untuk pertama kalinya ummat Islam mengalami kekalahan telak, karena faktor ketidaksabaran, takut tidak mendapatkan sesuatu, dan faktor lainnya. Banyak pelajaran hidup yang dapat diambil dalam perjalanan ziarah ini.

Rombongan kami juga berjalan mengelilingi Masjid Nabawi untuk melakukan ziarah-ziarah lainnya, seperti tempat terjadinya musyawarah akbar penentuan siapa yang akan menjadi khalifah yang akan menggantikan Rasulullah setelah wafat. Kami juga mengunjungi masjid Abu Abu Bakar, Masjid Ali bin Abi Thalib, dan lain sebagainya. Selain itu, di Raudhah, di samping makam manusia termulia Nabi Muhammad SAW, kembali kutitipkan salam rinduku, doa untuk istri salihahku, dan putri kecilku yang menungguku pulang. Di negeri Rasulullah ini tak banyak aku berjalan. Aku lebih banyak beribadah dan berdoa saja. Seraya di dalam hatiku, ya Rasulullah aku akan berkeliling di negeri yang engkau bangunini nanti bersama istri dan anakku. Tunggu kami datang ke sini ya Rasulullah.

Merindu Dua Negeri Allah

Dua belas hari berlalu laksana kedipan mata. Tiba-tiba rasa rindu muncul. Rindu untuk kembali ke Baitullah, rindu untuk berlama-lama di Negeri Rasulullah Madinah Munawwarah. Rindu untuk berziarah di tempat-tempat yang belum sempat dikunjungi. Namun di balik kerinduan itu, juga terdapat kerinduan untuk kembali ke rumah, untuk bersama orang dan keluarga yang sangat disayangi. Inilah yang disebut dengan dua kebimbangan. "Ku serahkan semua rasa ini kepadaMu ya Rabb".

Waktu ibadah telah usai. Koper-koper kembali dikemas, dan kami bersiap menempuh rute kepulangan meluncur dari Madinah menuju Jeddah, dan untuk kembali terbang melintasi langit menuju Medan, hingga akhirnya sebuah pesawat perintis mendaratkanku kembali di tanah tempat tinggalku. Aku melangkah keluar dari pintu bus. Dari kejauhan, di balik pagar pembatas, kulihat dua sosok yang paling kurindukan di alam semesta. Nayyer melompat-lompat kecil dengan gaun sederhananya, melambaikan tangan dengan mata berbinar-binar tanpa ada lagi tangisan kesedihan seperti hari keberangkatan. Di sampingnya berdiri Jeeny, mengenakan jilbab indah yang kukenal baik, tersenyum manis menyambut kepulanganku.

Nayyer berlari kencang menerjang pelukanku saat aku berlutut untuk memeluknya. Kubenamkan wajahku pada rambut lurusnya, menghirup aroma tubuhnya yang mengobati seluruh lelah perjalananku. Jeeny berdiri di hadapanku, menyalami punggung tanganku dengan takzim, menciumnya lama sekali. Saat kulihat kedua mata Jeeny yang berbinar bahagia, dadaku bergetar hebat. Sebuah kesadaran besar menghantam seluruh relung jiwaku dengan sangat dahsyat.

Air mataku kembali mengalir di pipi, menetes di pundak putri kecilku. Di dalam lubuk hatiku yang terdalam, suaraku berbisik dengan kejujuran yang paling murni, perjalanan panjang ini sesungguhnya bukan tentang aku. Ini bukan tentang umrahku. Tetapi ini adalah umrahnya istri tercintaku, Jeeny, yang mengorbankan apa pun yang ia miliki dalam sunyi demi melihat suaminya bersujud di Baitullah. Dan ini adalah wujud dari keajaiban doa dan kerinduan putri tersayangku, Nayyer, yang merelakan ayahnya pergi jauh demi menjemput berkah langit. "Terima kasih, ya Rabb, atas kuasa dan keajaiban-Mu yang melampaui logika hartaku," bisikku dalam hati sambil memeluk erat kedua wanita terhebat dalam hidupku. "Terima kasih, istriku. Terima kasih, putri kecilku. Terima kasih banyak, Mak, atas ketulusan dan keikhlasan hatimu yang seluas samudera. Biarlah hatiku dan hatimu saja yang tahu rahasia di balik pengorbanan sucimu. Aku mencintai kalian semua, lillahi ta'ala, hingga ke surga-Nya kelak."(*)

 


Kategori: Cerpen
Berita Terkait